Oleh: Yusuf Fatawie*
Memasuki bulan ini, umat Islam memiliki kegemaran baru yakni membaca biografi seorang tokoh. Di masjid, surau, majlis ta’lim dan tempat lainya dilantunkan sejarah Sang Pembaharu. Al-Barzanji merupakan menu wajib yang tak terlewatkan dalam momen ini. Riwayat hidupnya telah mengkristal dalam puluhan bahkan mencapai ratusan buku baik berbentuk prosa maupun puisi. Penghormatan dan doa tak henti-hentinya dipanjatkan untuk Sang Pembebas. Sosok revolusioner yang satu ini akan selalu dikenang hingga bola dunia berhenti berputar. Tak hanya dikenang, corak kehidupannya senantiasa dikaji, diteladani dan diimplementasikan dalam kehidupan meski dalam format yang berbeda.
Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw biasa disebut Maulid Nabi. Beliau lahir pada 12 Rabiul Awwal yang pada tahun ini bertepatan Senin 9/3/’09. Hari bersejarah ini diperingati seluruh warga Indonesia dengan djadikannya sebagai hari libur nasional. Bagi kaum muslimin, mungkin hal ini wajar dalam rangka mengenang sosok Nabinya. Namun bagi penganut agama lain, libur ini diharapkan mampu memupuk sikap toleran, menghormati dan menghargai pluralitas bangsa Indonesia.
Potret Kehidupan Arab-Islam
Kondisi masyarakat Arab sebelum datangnya Islam sangat memprihatinkan. Kebejatan dan kebobrokan menyelimuti berbagai sendi kehidupan baik moral, sosial, budaya, politik dan lainnya. Solidaritas sosial masing-masing kelompok menjadi sumber utama bagi kekuatan setiap kabilah. Harga diri kelompok merupakan hal yang paling prinsipil untuk dipertahankan dan diperjuangkan. Tidak peduli apakah itu benar atau salah. Fanatisme kesukuan yang melampui batas ini kerap menjadi pemicu pertumpahan darah di antara mereka.
Fanatisme primordial tertanam kuat pada masing-masing kelompok sehingga saling berlomba untuk menjadi yang terdepan dan berusaha mengalahkan kelompok lain. Berperang adalah hobi sekaligus tradisi di setiap kabilah. Oleh karena itu, melahirkan bayi perempuan dianggap aib dan merugikan kabilah. Lebih parah lagi, penguburan bayi perempuan hidup-hidup tidak lagi dianggap sebagai perbuatan keji. Perempuan dianggap sebagai makhluk pelengkap dan cenderung dimarginalkan. Sebuah tatanan kehidupan yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.
Pada denyut zaman yang buram seperti itulah bayi mungil yang bernama Muhammad dilahirkan. Nabi Muhammad berhasil membangun kehidupan baru di atas reruntuhan puing-puing kehidupan yang telah hancur porak-poranda. Ia adalah pembawa ”obor” penerang yang menyinari manusia dari zaman kegelapan menuju pencerahan, dari kebiadaban menuju keberadaban serta dari penindasan menuju kemerdekaan dan kesamaan.
Langkah awal yang ditempuh Nabi adalah merubah dari paganisme menuju monoteisme. Mengumandangkan seruan untuk meng-Esakan Tuhan. Di bawah payung monoteisme, Nabi bermaksud menegakkan pola hidup yang egaliter dan menghapus sikap diskriminatif . Memahami bahwa hakekat manusia adalah sama dihadapan Tuhan. Hanya kualitas kepatuhanlah yang membedakan derajat manusia. Semangat teologi yang seperti ini merupakan upaya menghilangkan fanatisme kesukuan yang berlebihan. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Di samping akidah, misi utama kenabian adalah pembenahahan moral. Hal ini diakui oleh Nabi dalam sebuah hadisnya yang berbunyi ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Perjudian, pertikaian, dan pelbagai budaya buruk lainnya mengakar kuat di masyarakat Arab. Lambat laun Nabi memperbaiki tradisi ini menjadi lebih agamis, humanis dan penuh kedamaian.
Dalam ranah sosial, Nabi Muhammad mengubah perspektif masyarakat Arab yang cenderung memandang sebelah mata kaum ekonomi bawah. Hal ini termanifestasikan dalam ajaran kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang mampu. Upaya pengentasan kemiskinan terus digalakkan demi terciptanya kesejahteraan bersama. Perlahan tapi pasti, Nabi berusaha mengikis kesenjangan sosial yang ada kala itu.
Ringkasnya, kehadiran Nabi Muhammad telah telah membawa reformasi dan revolusi besar-besaran dalam tata hidup masyarakat Arab. Ia berhasil memberikan nuasa baru bagi kehidupan yang lebih religius, membebaskan dan mencerahkan.
Nabi Muhammad telah menorehkan prestasi gemilang dan memberikan kontribusi besar bagi sejarah peradaban manusia. Tidak berlebihan bila Michael H. Hart dalam karya monumentalnya The 100, a Rangking of the Most Influential Persons in History (1978) memosisikan Nabi Muhammad dalam urutan pertama orang yang berpengaruh di dunia. Menurut Hart, Nabi Muhammad mencapai keberhasilan luar biasa, mampu memimpin bangsa yang dulunya terbelakang menjadi bangsa yang maju dan mampu mengalahkan bangsa Romawi.
Makna di Balik Maulid Nabi
Maulid Nabi merupakan peringatan kelahiran seorang tokoh yang membawa ’pesan suci’ Tuhan untuk kedamaian dan rahmat semesta alam. Nabi telah berhasil merubah masyarakat Arab menjadi bangsa yang berperadaban. Tapi biarlah, meratapi ataupun membanggakan keberhasilan masa silam bukanlah sikap yang bijak. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana menangkap dan menghidupkan pesan-pesan profetik dalam konteks kekinian. Inti perayaan Maulid bukan sekadar kegembiraan atas kehadiran seorang Nabi dalam lintasan sejarah, tapi bagaimana meneruskan perjuangan dan cita-cita beliau.
Dengan peringatan Maulid Nabi, kita diharapkan mampu menangkap butiran hikmah yang tercecer di balik sisi historis yang ada. Maulid Nabi tidak hanya dipahami sebagai ritual simbolik yang sarat dengan nilai kesakralan. Tetapi lebih tepat dijadikan momentum untuk melakukan refleksi dan kajian atas budaya, sosial, politik dan sebagainya saat ini. Mewarisi semangat pembebasan dan perubahan, sehingga tak hanya berpangku tangan sembari menyesali keadaan.
Dengan demikian, konteks peringatan hari kelahiran Nabi Saw terasa lebih bermakna, bukan seremonial kultural-simbolik belaka. Peringatan Maulid Nabi berarti memperingati kelahiran seorang pemimpin bangsa yang mampu menciptakan pemerintahan yang ideal. Nabi Muhammad adalah sosok yang patut diteladani bagi calon pemimpim bangsa.
Bagi bangsa Indonesia, Maulid Nabi kali ini sangat tepat untuk dijadikan sebagai gambaran bagi calon pemimpin bangsa khususnya menjelang pesta demokrasi yang tak lama lagi akan segera kita laksanakan. Nabi Muhammad adalah pemimpin yang bersikap adil, toleran, egaliter humanis, dan anti-diskriminatif. Mengentaskan kemiskinan dan menepis kesenjangan sosial. Mampu membawa perubahan di segala bidang bagi masyarakatnya. Membangun pemerintahan yang demokratis, dan mengedepankan kesejahteraan rakyat.
Maulid Nabi harus diperingati dan dipahami lebih dalam serta lebih luas pemaknaannya. Tidak hanya sekadar seremonial peringatan kelahiran Nabi akhir zaman, tetapi lebih dari itu yakni peringatan lahirnya pemimpin bangsa yang mampu menata kehidupan masyarakat yang ideal. Pemilu sebentar lagi, mari kita sukseskan dengan memilih pemimpin negara yang benar-benar mampu menegakkan kedaulatan rakyat dan membawa perubahan bagi Indonesia di masa mendatang.
*) Penulis adalah koordinator kajian ’Beras’ (Bengkel Turas) Lirboyo Kediri.








