Sabtu, 07 Maret 2009

KADO MAULID NABI

Dari Ritual Kultural Untuk Bangsa
Oleh: Yusuf Fatawie*

Tulisan ini pernah dimuat Harian Surya

Memasuki bulan ini, umat Islam memiliki kegemaran baru yakni membaca biografi seorang tokoh. Di masjid, surau, majlis ta’lim dan tempat lainya dilantunkan sejarah Sang Pembaharu. Al-Barzanji merupakan menu wajib yang tak terlewatkan dalam momen ini. Riwayat hidupnya telah mengkristal dalam puluhan bahkan mencapai ratusan buku baik berbentuk prosa maupun puisi. Penghormatan dan doa tak henti-hentinya dipanjatkan untuk Sang Pembebas. Sosok revolusioner yang satu ini akan selalu dikenang hingga bola dunia berhenti berputar. Tak hanya dikenang, corak kehidupannya senantiasa dikaji, diteladani dan diimplementasikan dalam kehidupan meski dalam format yang berbeda.

Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw biasa disebut Maulid Nabi. Beliau lahir pada 12 Rabiul Awwal yang pada tahun ini bertepatan Senin 9/3/’09. Hari bersejarah ini diperingati seluruh warga Indonesia dengan djadikannya sebagai hari libur nasional. Bagi kaum muslimin, mungkin hal ini wajar dalam rangka mengenang sosok Nabinya. Namun bagi penganut agama lain, libur ini diharapkan mampu memupuk sikap toleran, menghormati dan menghargai pluralitas bangsa Indonesia.

Potret Kehidupan Arab-Islam

Kondisi masyarakat Arab sebelum datangnya Islam sangat memprihatinkan. Kebejatan dan kebobrokan menyelimuti berbagai sendi kehidupan baik moral, sosial, budaya, politik dan lainnya. Solidaritas sosial masing-masing kelompok menjadi sumber utama bagi kekuatan setiap kabilah. Harga diri kelompok merupakan hal yang paling prinsipil untuk dipertahankan dan diperjuangkan. Tidak peduli apakah itu benar atau salah. Fanatisme kesukuan yang melampui batas ini kerap menjadi pemicu pertumpahan darah di antara mereka.

Fanatisme primordial tertanam kuat pada masing-masing kelompok sehingga saling berlomba untuk menjadi yang terdepan dan berusaha mengalahkan kelompok lain. Berperang adalah hobi sekaligus tradisi di setiap kabilah. Oleh karena itu, melahirkan bayi perempuan dianggap aib dan merugikan kabilah. Lebih parah lagi, penguburan bayi perempuan hidup-hidup tidak lagi dianggap sebagai perbuatan keji. Perempuan dianggap sebagai makhluk pelengkap dan cenderung dimarginalkan. Sebuah tatanan kehidupan yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Pada denyut zaman yang buram seperti itulah bayi mungil yang bernama Muhammad dilahirkan. Nabi Muhammad berhasil membangun kehidupan baru di atas reruntuhan puing-puing kehidupan yang telah hancur porak-poranda. Ia adalah pembawa ”obor” penerang yang menyinari manusia dari zaman kegelapan menuju pencerahan, dari kebiadaban menuju keberadaban serta dari penindasan menuju kemerdekaan dan kesamaan.

Langkah awal yang ditempuh Nabi adalah merubah dari paganisme menuju monoteisme. Mengumandangkan seruan untuk meng-Esakan Tuhan. Di bawah payung monoteisme, Nabi bermaksud menegakkan pola hidup yang egaliter dan menghapus sikap diskriminatif . Memahami bahwa hakekat manusia adalah sama dihadapan Tuhan. Hanya kualitas kepatuhanlah yang membedakan derajat manusia. Semangat teologi yang seperti ini merupakan upaya menghilangkan fanatisme kesukuan yang berlebihan. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Di samping akidah, misi utama kenabian adalah pembenahahan moral. Hal ini diakui oleh Nabi dalam sebuah hadisnya yang berbunyi ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Perjudian, pertikaian, dan pelbagai budaya buruk lainnya mengakar kuat di masyarakat Arab. Lambat laun Nabi memperbaiki tradisi ini menjadi lebih agamis, humanis dan penuh kedamaian.

Dalam ranah sosial, Nabi Muhammad mengubah perspektif masyarakat Arab yang cenderung memandang sebelah mata kaum ekonomi bawah. Hal ini termanifestasikan dalam ajaran kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang mampu. Upaya pengentasan kemiskinan terus digalakkan demi terciptanya kesejahteraan bersama. Perlahan tapi pasti, Nabi berusaha mengikis kesenjangan sosial yang ada kala itu.

Ringkasnya, kehadiran Nabi Muhammad telah telah membawa reformasi dan revolusi besar-besaran dalam tata hidup masyarakat Arab. Ia berhasil memberikan nuasa baru bagi kehidupan yang lebih religius, membebaskan dan mencerahkan.

Nabi Muhammad telah menorehkan prestasi gemilang dan memberikan kontribusi besar bagi sejarah peradaban manusia. Tidak berlebihan bila Michael H. Hart dalam karya monumentalnya The 100, a Rangking of the Most Influential Persons in History (1978) memosisikan Nabi Muhammad dalam urutan pertama orang yang berpengaruh di dunia. Menurut Hart, Nabi Muhammad mencapai keberhasilan luar biasa, mampu memimpin bangsa yang dulunya terbelakang menjadi bangsa yang maju dan mampu mengalahkan bangsa Romawi.

Makna di Balik Maulid Nabi

Maulid Nabi merupakan peringatan kelahiran seorang tokoh yang membawa ’pesan suci’ Tuhan untuk kedamaian dan rahmat semesta alam. Nabi telah berhasil merubah masyarakat Arab menjadi bangsa yang berperadaban. Tapi biarlah, meratapi ataupun membanggakan keberhasilan masa silam bukanlah sikap yang bijak. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana menangkap dan menghidupkan pesan-pesan profetik dalam konteks kekinian. Inti perayaan Maulid bukan sekadar kegembiraan atas kehadiran seorang Nabi dalam lintasan sejarah, tapi bagaimana meneruskan perjuangan dan cita-cita beliau.

Dengan peringatan Maulid Nabi, kita diharapkan mampu menangkap butiran hikmah yang tercecer di balik sisi historis yang ada. Maulid Nabi tidak hanya dipahami sebagai ritual simbolik yang sarat dengan nilai kesakralan. Tetapi lebih tepat dijadikan momentum untuk melakukan refleksi dan kajian atas budaya, sosial, politik dan sebagainya saat ini. Mewarisi semangat pembebasan dan perubahan, sehingga tak hanya berpangku tangan sembari menyesali keadaan.

Dengan demikian, konteks peringatan hari kelahiran Nabi Saw terasa lebih bermakna, bukan seremonial kultural-simbolik belaka. Peringatan Maulid Nabi berarti memperingati kelahiran seorang pemimpin bangsa yang mampu menciptakan pemerintahan yang ideal. Nabi Muhammad adalah sosok yang patut diteladani bagi calon pemimpim bangsa.

Bagi bangsa Indonesia, Maulid Nabi kali ini sangat tepat untuk dijadikan sebagai gambaran bagi calon pemimpin bangsa khususnya menjelang pesta demokrasi yang tak lama lagi akan segera kita laksanakan. Nabi Muhammad adalah pemimpin yang bersikap adil, toleran, egaliter humanis, dan anti-diskriminatif. Mengentaskan kemiskinan dan menepis kesenjangan sosial. Mampu membawa perubahan di segala bidang bagi masyarakatnya. Membangun pemerintahan yang demokratis, dan mengedepankan kesejahteraan rakyat.

Maulid Nabi harus diperingati dan dipahami lebih dalam serta lebih luas pemaknaannya. Tidak hanya sekadar seremonial peringatan kelahiran Nabi akhir zaman, tetapi lebih dari itu yakni peringatan lahirnya pemimpin bangsa yang mampu menata kehidupan masyarakat yang ideal. Pemilu sebentar lagi, mari kita sukseskan dengan memilih pemimpin negara yang benar-benar mampu menegakkan kedaulatan rakyat dan membawa perubahan bagi Indonesia di masa mendatang.

*) Penulis adalah koordinator kajian ’Beras’ (Bengkel Turas) Lirboyo Kediri.








[+/-] Baca Selengkapnya...

Jumat, 06 Maret 2009

Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Kediaman Kedamaian Mengucapkan Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW


Wavy Myspace Scroller


[+/-] Baca Selengkapnya...

Minggu, 22 Februari 2009

Ponari, Pahlawan Atawa Ancaman ?

Ponari, Pahlawan Atawa Ancaman ?
Oleh: Yusuf Fatawie*
Jombang adalah kota yang banyak memberi warna dalam pentas sejarah nasional. Kota kecil namun mampu memunculkan tokoh besar. Sederetan nama seperti K. Wahab Hasbullah, K. Hasyim Asy’ari, Nurcholis Majid, Abdurrahman Wahid, Emha Ainun Najib, merupakan tokoh kelahiran kota tersebut. Entah ada apa dengan Jombang, sehingga tokoh besar banyak yang lahir dari rahimnya.

Nama Jombang kini kembali meroket di jagad Indonesia. Setelah si jagal Ryan mengotori harumnya Jombang, kini kota ini digegerkan lagi oleh ”artis cilik” Muhammad Ponari. Bocah siswa kelas 3 SD ini kembali melambungkan nama Jombang lewat fenomena alam yang dialaminya. Ia telah menyedot perhatian ribuan massa dari berbagai daerah lewat batu keramat yang dimilikinya. Terlebih setelah diekspos berbagai media, dusun Kedungsari desa Balongsari, Megaluh banyak jadi jujugan alternatif untuk berobat. Ribuan manusia menyemut membentuk ular antrean panjang. Bahkan sudah empat orang meninggal akibat berdesakan di gang sempit menuju rumah Ponari.
Kemampuan supranatural Ponari berawal dari sambaran petir. Layaknya anak seusianya, Ponari bermain riang gembira. Hujan deras menjadi tempat paling asyik untuk bermain. Di tengah hujan dengan petir yang tak henti-hentinya memekakkan telinga, tubuh bocah itu terkena hawa panas seperti tersambar petir. Setelah itu, dibawah tubuhnya muncul batu berwarna hitam. Kemudian benda itu, oleh Ponari dibawa pulang. Batu bertuah itu pernah dibuang neneknya, namun muncul kembali di rumahnya.
Batu hitam itu diketahui berkhasiat setelah salah seorang tetangganya menderita sakit. Tanpa sadar, Ponari memberi minum dengan air putih yang sebelumnya dicelupi batu itu. Ternyata orang tersebut sembuh. Ihwal adanya dukun tiban tersebar dari mulut ke mulut hingga meluas ke berbagai daerah. Indahnya petak umpet, bermain dengan teman sebaya, sekolah, kini tak lagi bisa dinikmati Ponari karena pasien makin membludak.

Sembuh Sebelum Berobat
Fenomena bocah Jombang berusia 9 tahun ini memang cukup unik dan menarik. Di satu sisi, ia dengan batu keramatnya dianggap sebagai pahlawan yang membantu menyembuhkan warga yang terkena penyakit. Namun di sisi lain, ia justru menimbulkan penyakit kronis baru yakni matinya logika manusia. Lantaran batu bertuahnya, Ponari dengan mudah menyembuhkan pasiennya. Namun, jangan harap dengan benda itu Ponari mampu menyembuhkan warga yang menderita sakit rasionalitasnya. Justru sebaliknya, benda itu bisa memperparah bahkan membunuh logika. Betapa tidak, warga rela mengais air selokan buangan dari arah rumah Ponari. Tindakan konyol mengambil air comberan ini dilakukan dengan segudang harapan untuk bisa sehat dan mendapat berkah.
Pengobatan Ponari berpotensi besar untuk jadi jebakan yang bisa menyeret pada jurang kekufuran. Bagi yang tidak berhati-hati, hal ini dapat membahayakan akidah Islam. Sebab, frekeuensi keyakinan terhadap Tuhan makin lama kian luntur. Bahkan bisa tergeser dan berganti mempercayai batu bertuah. Mungkin Allah sedang menguji kadar keimanan hamba-hambaNya. Lebih percaya kepada kekuatan gaib sebuah batu bertuah atau yakin terhadap kekuatan super power Sang Pembuat batu.
Bagi insan yang beragama, tentunya peristiwa dukun dadakan ini bisa diambil hikmah guna memperkokoh dinding akidah yang sudah mulai retak. Arus modernitas serta beragam tantanganya terkadang memaksa manusia untuk berpikir logis dan realistis. Melalui Ponari, bisa jadi Tuhan ingin menegur manusia yang mengaku beragama namun prilakunya jauh dari nilai-nilai keagamaan. Mengaku sebagai makhluk bertuhan namun melepaskan keberadaaNya dalam kehidupan.
Batu keramat milik Ponari adalah salah satu bukti nyata bahwa Tuhan benar-benar berkuasa. Keajaiban Ponari membuktikan, tidak semua perkara harus dilogikakan, melainkan hanya kebeningan hati yang mampu menangkap kebenaran itu. Ketika fenomena Ponari diletakkan dalam konteks demikian, maka yang muncul adalah refleksi dan renungan yang mendalam akan keberagamaan kita selama ini.
Para pakar kedokteran menilai sistem pengobatan Ponari wajar-wajar saja. Ihwal penyembuhan dengan batu keramat itu bukan sesuatu yang tidak logis. Kesembuhan pasien dukun cilik itu lebih disebabkan aspek psikologis, yakni sugesti. Secara teori, sugesti yang dibangkitkan oleh seseorang pada dirinya sendiri bisa merangsang hormon-hormon dalam tubuh untuk melawan sel-sel penyakit atau dalam dunia medis dikenal dengan antibody. Satu lagi yang patut direnungkan bahwa para dokter kita hampir tak pernah memberikan sugesti seperti yang ditawarkan Ponari. Para pasien dokter, klinik, rumah sakit, atau lainnya bukan menggantungkan setumpuk harapan tapi berharap-harap cemas jangan-jangan biaya yang harus ditebus amat besar. Jangankan mendapatkan sugesti kesembuhan, pasien justru bertampah sakit memikirkan biaya pengobatan yang harus dibayar.

Saatnya Menagih Janji
Pengobatan ala Ponari jika ditangani dan diatur dengan rapi, lama-lama akan menjadi bom waktu yang siap meledak dan merobohkan ”bangunan” unit-unit kesehatan. Pasalnya, penyembuhan yang hanya berbekal air putih dan sebutir batu relatif murah dan diminati. Sementara biaya berobat di berbagai unit kesehatan resmi mahal tak terjangkau.
Fenomena dukun cilik Ponari merupakan sebuah cermin kegagalan pemerintah Indonesia dalam menyediakan layanan kesehatan yang murah. Hal ini berdasarkan mayoritas pasien Ponari adalah dari kalangan menengah ke bawah. Pemerintah memang telah berupaya menebar tempat-tempat layanan kesehatan murah melalui Puskesmas di berbagai kecamatan. Akan tetapi permasalahannya adalah apakah layanan kesehatan yang diberikan berkualitas? Sementara rumah sakit berdiri megah dengan kualitas yang tak diragukan lagi apakah terjangkau oleh masyarakat, khususnya masyarakat kurang mampu?
Dalam konteks ini, tampaknya pemerintah mempunyai tanggungjawab untuk mengatasi masalah sosial ini. Pemerintah harus menyediakan tempat pelayanan kesehatan yang murah, terjangkau dan bermutu. Atau jika tidak demikian, pemerintah harus berupaya mengentaskan masyarakat Indonesia dari jurang kemiskinan. Terlebih menghadapi Pemilu April mendatang, para calon wakil rakyat harus benar-benar siap memerhatikan masalah ini.
Peristiwa Ponari seharusnya menjadi ”alarm” pengingat bagi pemerintah akan pekerjaan rumah yang masih menumpuk butuh penyelesaian. Biar bagaimanapun Jombang adalah Jawa Timur. Berarti, fenomena Ponari adalah potret masyarakat Jawa Timur yang masih diselimuti kemiskinan. Bagi para pemimpin Jawa Timur khususnya Gubernur baru dan wakilnya, sudah saatnya untuk bergegas mengatasi masalah ini. ”APBD untuk Rakyat” yang kerap digembar-gemborkan pra-Pilkada biar tidak hanya sekadar janji belaka. Semoga si kecil Ponari bisa menjadi ”multivitamin” yang menambah gairah dan semangat para pemimpin baru Jawa Timur. Kami tunggu realisasi janjimu !

*) Penulis adalah koordinator kajian BERAS (Bengkel Turas) Lirboyo Kediri




[+/-] Baca Selengkapnya...

Kamis, 08 Januari 2009

Sastra

KADJEN
Oleh: Goesvo

Aku datang dari malam nan jauh
Datang dengan tas punggung serta sesungging senyum
Yang tergantung pada mimipi malam jelang shubuh

”Kadjen” bagai situs sakral
Ke sini ku menziarahimu
Di mana cerita lama pernah di kebumikan
Sambil mengenang sang pembimbing berjubah putih
Dengan wajah teduh nan damai

Aku datang dari sebuah kalimat yang ditinggal kata-katanya
Datang dari bandar nan risau
Tempat di mana gelombang panjang masih kerap terdengar
Di sebelah barat negeri

Memori tak perlu dihidupkan kembali
Tapi ku pasti menziarahimu sesekali
”Kadjen” seakan berseri dengan paras shubuhnya
Di mana mentari pagi tlah menanti


Jambi nov ’08

Teruntuk Kajen, PNH, Prima dan suasananya yang terindukan

URO
Oleh: Goesvo

Wahai tuan nan bijak
Aku tak tahu ada di mana
Aku terdampar di bandar yang berkalang resah
Tak ada waktu bagi penghuninya
Selain mengejar bayangannya sendiri
Aku tak tahu siapa diriku
Yang akrab di telingaku
Rakyat memanggilku URO
Oh....
Amnesia yang merantaiku

Wahai tuan yang melihat masa lampau
Jelaskan padaku siapa aku
Kenapa aku ada di sini....?

Engkau berkisah panjang lebar di depanku
Berkhotbah tentang surga neraka
Tapi aku terlalu tuli tuk mendengarnya
Bahasamu sungguh tak ku pahami
Gigi rentamu tak kuasa menahan sang waktu

Wahai tuan...!
Sedikit coba kumengerti dari khotbahmu
Kota ini bukan tujuan akhir
Hanya persinggahan sementara
Kapal penjemput yang dinahkodai Izroil
Tlah menanti...!

Wahai tuan...!
Engkau menyuruhku pergi ke masjid
Ku malah pergi ke pasar
Engkau mengajakku ke madrasah
Ku malah asyik di jalanan
Engkau menjemputku ke majlis dzikir
Ku malah terlena dalam panggung hiburan rakyat

Oh...Uro namaku







[+/-] Baca Selengkapnya...

Sabtu, 13 Desember 2008

Sastra

Kekasih Malam
Oleh : Goesvo


Wahai kekasih malam yang kecewa
Yang berjalan dalam kedinginan
Sang pembelah malam
Kenapa kau jemput pagi dingin kemurungan

Aku tak tahu jawabmu
Bukankah sepanjang malam
Kau telah bercumbu dengan kekasihmu?
Bukan itu yang membuatku gundah sobatku
Lalu apa wahai kekasih malam

Engkau tak bicara
Namun dari sudut matamu
Seolah berbisik dalam tetes air matamu
Ku coba mengerti
Bukan pertemuan yang kuratapi
Tapi arti pertemuan ini
Makna cumbu rayu diatas sajadah ini
Oh….kekasih malam yang bermata sembab

Jambi Des ‘08

Senja kelabu
Sebelumnya kita adalah teman sepermaian
Kita bagaikan dua sejoli
Oh senja nan kelabu
Kau ajak ku singgah di masjidmu
Kau berkhotbah panjang lebar di depanku
Bak seorang calo terminal
Tawarkan surga dan neraka
Jiwaku terasa mual
Ketika kukunyah petuah-petuahmu
Tenggorokan hatiku muak
Kala ku teguk tafsir-tafsir anehmu
Hingga kumuntahkan semua bangkai kata-katamu
Dari lambung hatiku

Kau berdiri mencak-mencak di depanku
Dengan pedang syare’atmu
Terhunus berkilauan dari sarung akidahmu
Hendak menusukku

Aku berdiri dan berlalu dari masjidmu
Sambil ku bisikkan di telinga hatimu
Aku tak butuh surga nerakamu
Yang ku butuh hanya KASIHku

Teruntuk sobat SALAFY ku,
Perbedaan kita adalah rahmat bukan naluri saling menyalahkan

Jambi Des ‘08



[+/-] Baca Selengkapnya...

Sastra

HU....
Oleh: Goesvo
Aku tak begitu kenal diriku
Karna tak terlintas olehku tuk mengenalnya
Yang kutahu aku hanyalah sang pendosa


Aku tak tahu siapa Tuhanku
karna aku malas memikirkanNya
Tapi yang pasti Dia satu dan pemaaf

Aku tak faham agamaku
Tapi sedikit kutahu
Agamaku membawa pesan perdamaian tuk semuanya
Yang disampaikan oleh Muhammad

Aku tak ngerti apa madzhabku
Karna itu sama sekali gak penting
Tapi yang jelas aku penganut madzhab cinta dan kebebasan

Tuk apa bicara surga dan neraka
Bila tiap detik kehidupan itu
Terlalu indah tuk di lewatkan
Jangan panjang lebar di depanku
Karna bikin pusing kepala
Cukup satu kalimat HU

Biarlah semua bilang aku salah jalan
Karna jalanku nggak sama dengan mereka
Semua orang riuh berteriak ingin menolong
Tapi terdengar seperti menggonggong
Cukup aku ucapkan HU

Jambi Nov ‘08

MAN AROFA NAFSAHU AROFA ROBBAHU



Pekuburan

Aku bukan siapa-siapa tuk kau kenang
Apalagi tuk kau puja
Tubuhku bagai batu nisan yang terpahat nama dikepalaku
Bagai jiwa yang tlah mati kemarin
Masih tercium aroma segar melati dan kenanga
Tertimbun pada tanah basah memerah
Inilah pekuburanku..!

Tak mungkin kau bisa menemui kulagi
Aku tlah tenang di sini
Bercengkerama dengan sang KEKASIH
Tiap saat tiap waktu
Tanpa dimensi ruang dan waktu

Jambi Nov ‘08

ILAHI ANTA MAQSHUDI WA RIDHOKA MATHLUBI

One Love

Satu cinta pergi
Dan pasti takkan kembali
Satu cinta berlari
Jauh mengejar mimpi
Satu cinta menyapa
Dalam bayang-bayang putus asa

Tapi cintamu trus setia
Dalam suka dalam duka
Trus menyatu dalam rindu
Jangan jauh dariku
Jangan tinggalkan aku



[+/-] Baca Selengkapnya...

Minggu, 07 Desember 2008

Memahami Makna Idul Adha

Memahami Makna Idul Adha
Oleh : Yusuf Fatawie*


Bulan ini merupakan bulan bersejarah bagi umat Islam. Pasalnya, di bulan ini kaum muslimin dari berbagai belahan dunia melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji adalah ritual ibadah yang mengajarkan persamaan di antara sesama. Dengannya, Islam tampak sebagai agama yang tidak mengenal status sosial. Kaya, miskin, pejabat, rakyat, kulit hitam ataupun kulit putih semua memakai pakaian yang sama. Bersama-sama melakukan aktivitas yang sama pula yakni manasik haji.

Selain ibadah haji, pada bulan ini umat Islam merayakan hari raya Idul Adha. Lantunan takbir diiringi tabuhan bedug menggema menambah semaraknya hari raya. Suara takbir bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak melakukan refleksi bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam.

Pada hari itu, kaum muslimin selain dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rekaat, juga dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu. Anjuran berkurban ini bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim kepada putra terkasihnya yakni Nabi Ismail.

Peristiwa ini memberikan kesan yang mendalam bagi kita. Betapa tidak. Nabi Ibrahim yang telah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun ternyata diuji Tuhan untuk menyembelih putranya sendiri. Nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak mengindahkan perintahNya. Sebuah pilihan yang cukup dilematis. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Tuhanpun dilaksanakan. Dan pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor domba. Legenda mengharukan ini diabadikan dalam al Quran surat al Shaffat ayat 102-109.

Kisah tersebut merupakan potret puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya tidak menghalangi ketaatan kepada Tuhan. Model ketakwaan Nabi Ibrahim ini patut untuk kita teladani.

Dari berbagai media, kita bisa melihat betapa budaya korupsi masih merajalela. Demi menumpuk kekayaan rela menanggalkan ”baju” ketakwaan. Ambisi untuk meraih jabatan telah memaksa untuk rela menjebol ”benteng-benteng” agama. Dewasa ini, tata kehidupan telah banyak yang menyimpang dari nilai-nilai ketuhanan. Dengan semangat Idul Adha, mari kita teladani sosok Nabi Ibrahim. Berusaha memaksimalkan rasa patuh dan taat terhadap ajaran agama.

Di samping itu, ada pelajaran berharga lain yang bisa dipetik dari kisah tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa perintah menyembelih Nabi Ismail ini pada akhirnya digantikan seekor domba. Pesan tersirat dari adegan ini adalah ajaran Islam yang begitu menghargai betapa pentingnya nyawa manusia.

Hal ini senada dengan apa yang digaungkan Imam Syatibi dalam magnum opusnya al Muwafaqot. Menurut Syatibi, satu diantara nilai universal Islam (maqoshid al syari’ah) adalah agama menjaga hak hidup (hifdzu al nafs). Begitu pula dalam ranah fikih, agama mensyari’atkan qishosh, larangan pembunuhan dll. Hal ini mempertegas bahwa Islam benar-benar melindungi hak hidup manusia. (hlm.220 )

Nabi Ismail rela mengorbankan dirinya tak lain hanyalah demi mentaati perintahNya. Berbeda dengan para teroris dan pelaku bom bunuh diri. Apakah pengorbanan yang mereka lakukan benar-benar memenuhi perintah Tuhan demi kejayaan Islam atau justru sebaliknya?.

Para teroris dan pelaku bom bunuh diri jelas tidak sesuai dengan nilai universal Islam. Islam menjaga hak untuk hidup, sementara mereka—dengan aksi bom bunuh diri— justru mencelakakan dirinya sendiri. Di samping itu, mereka juga membunuh rakyat sipil tak bersalah, banyak korban tak berdosa berjatuhan. Lebih parah lagi, mereka bukan membuat Islam berwibawa di mata dunia, melainkan menjadikan Islam sebagai agama yang menakutkan, agama pedang dan sarang kekerasan. Akibat aksi nekat mereka ini justru menjadikan Islam laksana ”raksasa” kanibal yang haus darah manusia.

Imam Ghazali dalam Ihya ’Ulumuddin pernah menjelaskan tentang tata cara melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Menurutnya, tindakan dalam bentuk aksi pengrusakan, penghancuran tempat kemaksiatan adalah wewenang negara atau badan yang mendapatkan legalitas negara. Tindakan yang dilakukan Islam garis keras dalam hal ini jelas tidak prosedural. (vol.2 hlm.311)

Sudah semestinya dalam melakukan amar makruf nahi munkar tidak sampai menimbulkan kemunkaran yang lebih besar. Bukankah tindakan para teroris dan pelaku bom bunuh diri ini justru merugikan terhadap Islam itu sendiri ?. Merusak citra Islam yang semestinya mengajarkan kedamaian dan rahmatan lil ’alamin. Ajaran Islam yang bersifat humanis, memahami pluralitas dan menghargai kemajemukan semakin tak bermakna.

Semoga dengan peristiwa eksekusi mati Amrozi cs, mati pula radikalisme Islam, terkubur pula Islam yang berwajah seram. Pengorbanan Nabi Ismail yang begitu tulus menjalankan perintahNya jelas berbeda dengan pengorbanan para teroris.

Di hari Idul Adha, bagi umat Islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban. Pada dasarnya, penyembelihan binatang kurban ini mengandung dua nilai yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transedental. Kurban dikatakan sebagai kesalehan sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan.

Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Dengan disyari’atkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama.

Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna esensial dari pesan yang disampaikan teks, bukan memahami teks secara literal. Oleh karenanya, semangat untuk terus ’berkurban’ senantiasa kita langgengkan pasca Idul Adha.

Saat ini kerap kita jumpai, banyak kaum muslimin yang hanya berlomba meningkatkan kualitas kesalehan ritual tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial. Banyak umat Islam yang hanya rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali, namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Sebuah fenomena yang menyedihkan. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan dua kesalehan sekaligus yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Selamat berhari raya !

*Yusuf Fatawie
Koordinator Forum Kajian ’Beras’ (Bengkel Turas) Kediri.



[+/-] Baca Selengkapnya...

Senin, 24 November 2008

Sastra

Teruntuk Goesvo......
Karya ini merupakan kontribusi dari pengunjung Kediaman Kedamaian
Pemilik Kediaman mengucapkan terima kasih atas sumbangsihnya
Semoga goresan pena Goesvo ini bermanfaat
Selanjutnya, selamat menikmati


Lelaki Malam

Oleh: Goesvo*
Kurangkai untaian kata
Pada secarik kertas yang terkoyak bimbang
Tiba-tiba ku terkenang.......
Sebuah rumah bambu
Yang berdinding kemiskinan
Yang tak pernah kami ratapi
Oh..........sosok itu !
Yang sudah mulai renta di makan usia.
Kami mencintaimu
Ke arah pagi engkau berjalan
Dalam dingin kau belah malam
Berjalan dan terus berjalan
Dari arah pusat malam
Kami tetap menunggu
Tetapi lelaki tua itu terus berjalan
Melewati pertigaan
Meninggalkan perempatan
Aku menunggu bersama kalian
Dengan jaket usang dan celana jeans yang sobek di lutut kanan
Di sudut pagi kami menanti
Lelaki tua itu selesaikan perjalanan malam
Tuk sekedar bercengkrama
Dalam cangkir kopi yang mulai dingin

*) Penulis adalah pecinta sastra, kini tinggal di pulau Andalas




[+/-] Baca Selengkapnya...

Jumat, 21 November 2008

Pernikahan Dini dalam perspektif Agama dan Negara

Pernikahan Dini Dalam Perspektif Agama dan Negara
Oleh: Yusuf Fatawie*

Isu pernikahan dini saat ini marak dibicarakan. Hal ini dipicu oleh pernikahan Pujiono Cahyo Widianto, seorang hartawan sekaligus pengasuh pesantren dengan Lutviana Ulfah. Pernikahan antara pria berusia 43 tahun dengan gadis belia berusia 12 tahun ini mengundang reaksi keras dari Komnas Perlindungan Anak. Bahkan dari para pengamat berlomba memberikan opini yang bernada menyudutkan. Umumnya komentar yang terlontar memandang hal tersebut bernilai negatif.

Di sisi lain, Syeh Puji, begitu ia akrab disapa berdalih untuk mengader calon penerus perusahaannya. Dia memilih gadis yang masih belia karena dianggap masih murni dan belum terkontaminasi arus modernitas. Lagi pula dalam pandangan Syeh Puji, menikahi gadis belia bukan termasuk larangan agama.

Sebenarnya kalau kita mau menelisik lebih jauh, fenomena pernikahan dini bukanlah hal yang baru di Indonesia, khususnya daerah Jawa. Penulis sangat yakin bahwa mbah buyut kita dulu banyak yang menikahi gadis di bawah umur. Bahkan—jaman dulu—pernikahan di usia ”matang” akan menimbulkan preseden buruk di mata masyarakat. Perempuan yang tidak segera menikah justru akan mendapat tanggapan miring atau lazim disebut perawan kaseb.

Namun seiring perkembangan zaman, image masyarakat justru sebaliknya. Arus globalisasi yang melaju dengan kencang mengubah cara pandang masyarakat. Perempuan yang menikah di usia belia dianggap sebagai hal yang tabu. Bahkan lebih jauh lagi, hal itu dianggap menghancurkan masa depan wanita, memberangus kreativitasnya serta mencegah wanita untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.

Pernikahan Dini menurut Negara

Undang-undang negara kita telah mengatur batas usia perkawinan. Dalam Undang-undang Perkawinan bab II pasal 7 ayat 1 disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak perempuan sudah mencapai umur 16 (enam belas tahun) tahun.[1]

Kebijakan pemerintah dalam menetapkan batas minimal usia pernikahan ini tentunya melalui proses dan berbagai pertimbangan. Hal ini dimaksudkan agar kedua belah pihak benar-benar siap dan matang dari sisi fisik, psikis dan mental.

Dari sudut pandang kedokteran, pernikahan dini mempunyai dampak negatif baik bagi ibu maupun anak yang dilahirkan. Menurut para sosiolog, ditinjau dari sisi sosial, pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi keluarga. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil, gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang. Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negatif. Oleh karenanya, pemerintah hanya mentolerir pernikahan diatas umur 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita.

Pernikahan Dini menurut Islam

Hukum Islam secara umum meliputi lima prinsip yaitu perlindungan terhadap agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal. Dari kelima nilai universal Islam ini, satu diantaranya adalah agama menjaga jalur keturunan (hifdzu al nasl). Oleh sebab itu, Syekh Ibrahim dalam bukunya al Bajuri menuturkan bahwa agar jalur nasab tetap terjaga, hubungan seks yang mendapatkan legalitas agama harus melalui pernikahan. Seandainya agama tidak mensyari’atkan pernikahan, niscaya geneologi (jalur keturunan) akan semakin kabur.[2]

Agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai pernikahan dini. Pernikahan yang dilakukan melewati batas minimnal Undang-undang Perkawinan, secara hukum kenegaraan tidak sah. Istilah pernikahan dini menurut negara dibatasi dengan umur. Sementara dalam kaca mata agama, pernikahan dini ialah pernikahan yang dilakukan oleh orang yang belum baligh.

Terlepas dari semua itu, masalah pernikahan dini adalah isu-isu kuno yang sempat tertutup oleh tumpukan lembaran sejarah. Dan kini, isu tersebut kembali muncul ke permukaan. Hal ini tampak dari betapa dahsyatnya benturan ide yang terjadi antara para sarjana Islam klasik dalam merespons kasus tersebut.

Pendapat yang digawangi Ibnu Syubromah menyatakan bahwa agama melarang pernikahan dini (pernikahan sebelum usia baligh). Menurutnya, nilai esensial pernikahan adalah memenuhi kebutuhan biologis, dan melanggengkan keturunan. Sementara dua hal ini tidak terdapat pada anak yang belum baligh. Ia lebih menekankan pada tujuan pokok pernikahan.

Ibnu Syubromah mencoba melepaskan diri dari kungkungan teks. Memahami masalah ini dari aspek historis, sosiologis, dan kultural yang ada. Sehingga dalam menyikapi pernikahan Nabi Saw dengan Aisyah (yang saat itu berusia usia 6 tahun), Ibnu Syubromah menganggap sebagai ketentuan khusus bagi Nabi Saw yang tidak bisa ditiru umatnya.

Sebaliknya, mayoritas pakar hukum Islam melegalkan pernikahan dini. Pemahaman ini merupakan hasil interpretasi dari QS. al Thalaq: 4. Disamping itu, sejarah telah mencatat bahwa Aisyah dinikahi Baginda Nabi dalam usia sangat muda. Begitu pula pernikahan dini merupakan hal yang lumrah di kalangan sahabat.

Bahkan sebagian ulama menyatakan pembolehan nikah dibawah umur sudah menjadi konsensus pakar hukum Islam. Wacana yang diluncurkan Ibnu Syubromah dinilai lemah dari sisi kualitas dan kuantitas, sehingga gagasan ini tidak dianggap. Konstruksi hukum yang di bangun Ibnu Syubromah sangat rapuh dan mudah terpatahkan.[3]

Imam Jalaludin Suyuthi pernah menulis dua hadis yang cukup menarik dalam kamus hadisnya. Hadis pertama adalah ”Ada tiga perkara yang tidak boleh diakhirkan yaitu shalat ketika datang waktunya, ketika ada jenazah, dan wanita tak bersuami ketika (diajak menikah) orang yang setara/kafaah”.[4]

Hadis Nabi kedua berbunyi, ”Dalam kitab taurat tertulis bahwa orang yang mempunyai anak perempuan berusia 12 tahun dan tidak segera dinikahkan, maka anak itu berdosa dan dosa tersebut dibebankan atas orang tuanya”.[5]

Pada hakekatnya, penikahan dini juga mempunyai sisi positif. Kita tahu, saat ini pacaran yang dilakukan oleh pasangan muda-mudi acapkali tidak mengindahkan norma-norma agama. Kebebasan yang sudah melampui batas, dimana akibat kebebasan itu kerap kita jumpai tindakan-tindakan asusila di masyarakat. Fakta ini menunjukkan betapa moral bangsa ini sudah sampai pada taraf yang memprihatinkan. Hemat penulis, pernikahan dini merupakan upaya untuk meminimalisir tindakan-tindakan negatif tersebut. Daripada terjerumus dalam pergaulan yang kian mengkhawatirkan, jika sudah ada yang siap untuk bertanggungjawab dan hal itu legal dalam pandangan syara’ kenapa tidak ?

Penutup

Substansi hukum Islam adalah menciptakan kemaslahatan sosial bagi manusia pada masa kini dan masa depan. Hukum Islam bersifat humanis dan selalu membawa rahmat bagi semesta alam. Apa yang pernah digaungkan Imam Syatiby dalam magnum opusnya ini harus senantiasa kita perhatikan. Hal ini bertujuan agar hukum Islam tetap selalu up to date, relevan dan mampu merespon dinamika perkembangan zaman.[6]

Permasalahan berikutnya adalah baik kebijakan pemerintah maupun hukum agama sama-sama mengandung unsur maslahat. Pemerintah melarang pernikahan usia dini adalah dengan pelbagai pertimbangan di atas. Begitu pula agama tidak membatasi usia pernikahan, ternyata juga mempunyai nilai positif. Sebuah permasalahan yang cukup dilematis.

Menyikapi masalah tersebut, penulis teringat dengan gagasan Izzudin Ibn Abdussalam dalam bukunya Qowa’id al Ahkam. Beliau mengatakan jika terjadi dua kemaslahatan, maka kita dituntut untuk menakar mana maslahat yang lebih utama untuk dilaksanakan.[7]

Kaedah tersebut ketika dikaitkan dengan pernikahan dini tentunya bersifat individual-relatif. Artinya ukuran kemaslahatan di kembalikan kepada pribadi masing-masing. Jika dengan menikah usia muda mampu menyelamatkan diri dari kubangan dosa dan lumpur kemaksiatan, maka menikah adalah alternatif terbaik. Sebaliknya, jika dengan menunda pernikahan sampai pada usia ”matang” mengandung nilai positif, maka hal itu adalah yang lebih utama. Wallahu A’lam

*) Penulis adalah siswa 1 Aliyah MHM Lirboyo Kediri

Daftar Pustaka :
1)UU Perkawinan di www.depag.go.id .
2)Ibrahim, al Bajuri hlm. 90 vol. 2 Toha Putra, Semarang.
3)Ibnu Hajar al ’Asqalani, Fathul Bari vol.9 hlm.237 Darul Kutub Ilmiah, Beirut.
4)Jalaluddin Suyuthi, Jami’ al Shaghir hlm.210 Darul Kutub Ilmiah, Beirut.
5)Ibid, hlm.501.
6)Imam Syatibi, al Muwafaqot hlm.220 Darul Kutub Ilmiah, Beirut.
7)Izzudin Ibn Abd. Salam, Qowa’id al Ahkam hlm.90 vol.II Darul Kutub Ilmiah, Beirut.

Tulisan pernah dimuat di sini
Atau bisa dibaca di sini

[+/-] Baca Selengkapnya...

Selasa, 18 November 2008

Galery Foto

Bersama Prabowo Subianto Capres dari Partai Gerindra


Al Zastrow Ngatawi, Budayawan Muda NU






[+/-] Baca Selengkapnya...

Template by : Joseph